Fenomena cerita alam ghaib akhir-akhir ini tampak semakin hangat saja. Banyaknya versi dan judul acara media kaca tentang kisah misteri yang ekspose menunjukkan bahwa acara misteri ini semakin laris ditengah -tengah masyarakat Islam Indonesia dan menjadi hal yang cukup menarik untuk dibincangkan. Misalnya Trans TV selalu mengandalkan cerita misterinya melalui siaran Dunia Lain, AN TV dengan judul acaranya Pengalaman Ghaib, Percaya Ngak Percaya, LA TV dengan program acara Saksi Misteri, TV 7 dengan judul Ekspedisi Alam Ghaib dan lainnya.
Bagaimanapun juga adanya cerita dan pengalaman nyata yang ditayangkan oleh para peneliti keberadaan makhluk ghaib itu tentu tidak lepas dari efek baik dan buruk sesuai dengan kesanggupan penonton atau masyarakat yang menalarnya.
Akibat terburuk yang paling kita khawatirkan timbulnya pada masyarakat Islam yang masih lemah sekali keyakinannya pada Allah untuk meminta pertolongan pada jin dan setan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi, membuat mereka kaya dengan cara-cara keji dan haram, berteman akrab dengan jin-jin melalui perjanjian terlaknat tertentu sehingga mereka jatuh kelembah syirik yang nyata dan memper Tuhankan setan yang berkedok jin kafir itu.
Memang mengimani alam ghaib adalah salah satu ciri pertama orang yang takwa menurut Alqur'an (Qs.al-Baqarah: 2), Namun bukan berarti kita dilbolehkan begitu saja tanpa syarat berteman akrab dan meminta pertolongan pada makhluk ghaib selain Allah apalagi sampai menghilangkan kebesaran Allah dari dalam hati kita dan mengagungkan jin-jin kafir yang merupakan makhluk Allah yang hina. Untuk menjawab fenomena inilah terasa penting sekali bagi penulis mengajak kita untuk mengkaji dan meninjau keberadaan jin dalam diskursus Al-qur'an dan Sunnah.
Mengenal Jin, Iblis, Setan Melalui Al-Qur'an Dan Sunnah Sebenarnya apa yang disebut dengan masyarakat Indonesia dengan istilah hantu, begu ganjang, kuntilanak dalam istilah ke-Sumateraan,memedit, Nyi Roro Kidul di laut Kidul, Ratu Pantai Selatan di Parang Teritis di Yogyakarta, genderuwo, sundel bolong, dan apapun nama dan istilah lain yang dipakai manusia tentang makhluk halus dalam Al-qur'an dan hadis seluruhnya disebut dengan setan atau jin. Jadi, nama-nama dan sebutan yang bermacam-macam itu adalah jelmaan dari setan atau jin bukan berdiri sendiri dengan wujud makhluk dan bentuk yang mandiri yang berbeda dan terpisah.
Menurut Al-qur'an seluruh jin sama-sama mendapat beban untuk mengemban dan melaksanakan titah (perintah) Allah persis sama seperti manusia dan di antara mereka ada yang baik (Islam) dan ada yang jahat. Jin yang jahat ini digolongkan atau disebut dengan setan yang dedengkot (sesepuh) mereka adalah Iblis. Jadi Iblis adalah nenek moyang jin, sedangkan jin ada yang jahat dengan nama barunya setan dan ada yang baik (jin Islam).
Dalam Al-qur'an dan sunnah telah disebutkan tentang ciri-ciri setan atau jin ini, yaitu: Pertama, mereka tercipta dari api dan memiliki umur yang cukup panjang. Jika manusia tercipta dari setetes mani, maka setan dan jin tercipta dari api yang sangat panas atau nyala api (Qs. 15 : 27 dan Qs.55:15).
Kedua, Mampu merubah bentuk dan menempuh jarak jauh dengan cepat. Ini adalah satu kekuatan dan ilmu yang diberikan Allah pada jin atau setan. Jin-jin yang kafir maupun yang Islam seluruhnya mampu merubah dirinya kedalam bentuk wujud yang lain yang mereka inginkan tapi semuanya bisa berlangsung dengan izin Allah.
Dalam berbagai hadis disebutkan terkadang mereka bisa berbentuk anak kambing (setan yang menyelip di sela-sela orang yang renggang shaf shalatnya), berbentuk ular, manusia yang berjubah hitam atau putih maupun berwajah sama persis seperti orang tua kita, tepatnya ketika nyawa dan ruh hendak pergi menghadap-Nya. Demikian juga jin-jin yang dikuasai oleh nabi Sulaiman as, ada yang mampu mengangkat singgasananya kesuatu tempat yang jauh dalam waktu yang relatif singkat.
Ketiga, Misi setan (jin kafir) adalah menyesatkan manusia agar mereka menjadi penghuni neraka. Dalam Alqur'an disebutkan iblis berkata : Ya Allah dengan sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, maka aku pasti menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan keji) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambamu yang ikhlas (QS. 15:40).
Cara setan (anak cucu iblis) menyesatkan manusia banyak sekali bisa menakut-nakuti manusia dengan kefakiran sehinga memaksa hati merka untuk berbuat jahat (Qs. 2: 268), menimbulkan angan-angan muluk sehingga manusia menjadi malas bekerja, berusaha dan suka merusak alam (4:119), menciptakan permusuhan dan berdusta atas nama Allah (Qs. 2:169) dan lain-lain.
Mereka juga diberi kemampuan oleh Allah untuk menilik hati manusia segi-segi apa saja yang menjadi kelemahanya seperti firman Allah: Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari satu tempat yang kamu tidak mampu melihatnya... (Qs.7: 27).
Iblis yang merupakan nenek moyangnya setan itu adalah makhluk yang pertama kali durhaka pada Allah ketika disuruh sujud pada ada. Ia menolak menolak sujud pada adam dengan segala kesombonganya sehingga ia dikeluarkan dari syurga.
Iblis juga termasuk golongan bangsa jin, bangsa yang telah diciptakan Allah sebelum manusia (adam) (Qs.18:50). Adapun setan adalah iblis yang berubah fungsinya menjadi penggoda manusia yang punya keturunan, beranak dan bercucu sama seperti berkembang biaknya manusia. Singkatnya jin kafir adalah setan dan setan adalah anak cucu kita yang durhaka.
Macam-macam Jin dan Setan Sesudah menganalisis Al-qur'an dan sunnah dan menghimpun pendapat beberapa ulama maka dapat disimpulkan bahwa jin juga terbagi menjadi 2 macam, yaitu: jin Islam dan jin kafir (setan).
Dalam Al-qur'an surah jin, dijelaskan bahwa di antara jin itu ada yang taat dan ada yang menyimpang dari kebenaran (itulah yang disebut dengan setan) dengan firman-Nya: "dan sesungguhnya di antara kami (bangsa jin) ada yang taat dan ada pula yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa yang taat, maka mereka itu benar benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun yang menyimpang dari kebenaran mereka akan menjadi kayu bakar bagi neraka jahannam (al-jin: 14-15).
Adapun setan menurut ahli hadis dari kalangan Tabi'in seperti Abu Qatadah dan Hasan Basyri terbagi lagi menjadi 2 golong, yaitu : setan dari bangsa jin dan manusia. Menurut mereka di antara jin dan manusia itu ada yang menjadi setan-setan yang jahat dan suka mengajak orang lain menjadi jahat.
Perkataan ini di perkuat dengan dialog nabi Saw dengan sahabat Abu Dzar sebagai berikut: Nabi Saw berkata: Ya Abu Dzar, apakah kamu telah memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan yang berasal dari jin dan manusia ? Nabi saw bersabda: Ya, benar-benar ada (HR. Ahmad). Hadis ini dipertegas lagi dengan ayat: dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi musuh-musuh (mereka ) yaitu setan-setan dari golongan jin dan manusia (Qs.6 :112).
Dengan demikan tuntaslah kajian bahwa setan terbagi atas dua ada yang berbentuk jin dan ada yang berbentuk manusia, yakni manusia yang telah dikuasai setan bangsa jin dan hawa nafsunya sehingga sifat-sifatnya sama persis dengan sifat-sifat setan yang senantiasa menyesatkan dan menyuruh manusia untuk melakukan segala tindak kejahatan, itulah yang disebut sebagai setan berbangsa manusia.
Berteman Dan Menjalin Persahabatan Dengan Jin Setelah kita mampu mengenal, mendeteksi jin, setan dan iblis melalui Al-qur'an dan sunnah diatas maka kita bisa yakin dan ulamapun sepakat bahwa kalau berteman dengan jin kafir (setan) tentu saja tidak boleh (haram), namun pertanyaannya apakah kita boleh berteman dengan jin Islam.
Dalam hal ini ada dua pendapat, yaitu ; Pertama,Boleh dengan syarat seseorang itu tidak boleh menjadi budak jin Islam itu. Tidak boleh memenuhi perjanjian dengan persyaratan yang melanggar syari'at dan tidak boleh mengikuti perintahnya jika suatu saat ia memerintahkan kejahatan.
Kedua, Tidak boleh. Pendapat ini didasarkan pada beberapa argumentasi yakni: Alam jin dan alam manusia berbeda sehingga manusia pada dasarnya tidak punya keterkaitan dengan jin, tidak dapat memastikan atau mengetahui secara pasti bahwa jin yang ia hadapi adalah benar-benar jin Islam yang taat, kapan ia masuk Islam dan kapan ia kafir seluruhnya sulit untuk diketahui manusia.
Jin Islam adalah turunan iblis yang tidak dapat dipastikan baik selamanya sama dengan manusia terkadang baik dan kemudian bisa berubah menjadi jahat padahal kondisi ini sulit diketahui karena sulitnya menembus alam mereka terus menerus.
Memudahkan munculnya kesyirikan. Nabi Saw selalu mengajari sahabat agar yakin pada Allah dan berwasilah pada kekuatan amal shalih mereka dalam menyelesikan masalah sehingga mereka terhindar jauh dari kesyirikan dan beliau tidak pernah mengajari sahabat agar selalu minta tolong pada anggota jin meskipun dalam perang seperti Perang Badar. Tetapi berkat keyakinan mereka pada Allah yang Maha Tinggi, maka Allah menurunkan bala bantuan dari kalangan malaikat-Nya.
Orang yang sudah sering minta tolong pada jin dan jin itui memenuhi segala keinginannya sehingga pada akhirnya keyakinan ghaibnya selalu tertuju pada jin itu tidak lagi pada Allah SWT dan ini tidak dibolehkan. Manusia lebih tinggi derajat ruhaninya atau kedekatannya pada Allah dan lebih mulia kedudukannya dengan jin Islam yang taat sekalipun. Sebagian besar ulama mengatakan: Sebaik-baik jin Islam adalah serendah-rendah derajat orang yang beriman. Oleh karna uitu tidak wajar jika manusia yang mampu lebih dekat kepada Allah minta pertolongan kepada bangsa jin yang lebih rendah dari mereka.
Nabi Saw tidak pernah memakai kekuatan jin untuk menghadapi perang melawan kafir quraish, tetapi beliau diberikan Allah malaikat yang datang dengan cuma-cuma dan dengan perintah-Nya dan beliau tidak pernah menyuruh para sahabat untuk berteman akrab dengan mereka.
Adapun kami memilih pendapat yang lebih berhati-hati dn sangat menekankan pada setiap umat Islam terutama yang masih awam untuk tidak bersahabat dengan jin meskipun ia Islam karena resikonya lebih besar daripadanya manfaatnya apalagi jika jin Islam itu suatu saat keluar dari islam (menjadi kafir) dan mengganggunya pada saat sakratul maut (detik-detik) kematiannya. Na'uzubillah. Semoga dipahami.
(am)
Eksistensi Jin, Iblis, Setan Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah (Fenomena Misteri Alam Ghaib Pada Media Visual Dan Cetak Sudah Diseminarkam di Doha Qatar tgl 17 juni 2005 bertempat di gedung Al _Askhmah Doha)