ISRA' DAN MI'RAJ "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di waktu malam dari Almasjidil Haram ke Almasjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya (daerah-daerah di sekitarnya) untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaaan Kami. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".(QS Al Isro' 1).
Dalam pengertian bahasa "Isra' " artinya berjalan dan "Mi'raj" artinya naik. Sedangkan konteks yang terjadi, adalah Rosulullah diperjalankan dari Al masjidil Haram (Mekkah) ke Al masjidil Aqsha (Yerusalem) dan dinaikkan sampai ke langit bumi ke 7 di Sidratul Muntaha. Keterangan mengenai Sidratul Muntaha dijelaskan Allah ketika Rosulullah mengahadapi kaum musyrik, beberapa waktu setelah Isra’nya beliau sebagaimana tercantum dalam Qur’an surat An Najm ayat 13 - 17 :"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal , Muhammad melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan Muhammad tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. "
KISAH SEBELUM ISRA' DAN MI'RAJ Sesudah orang Quraisy melihat, bahwa segala jalan yang mereka tempuh untuk memadamkan da’wah Rosulullah s.a.w. gagal karena adanya perlindungan dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib, maka mereka mengadakan pertemuan dan memutuskan untuk melakukan pemboikotan terhadap keluarga dan pengikut Rosululah.dengan jalan memutuskan segala perhubungan , hubungan perkawinan, jual beli, ziarah menziarahi dll, sehingga kaum muslimin banyak mengalami kesulitan, kemiskinan dan kesengsaraan selama masa pemboikotan sekitar 2 tahun. Belum lagi sembuh kepedihan yang dirasakan Nabi Muhammad akibat pemboikotan itu, datanglah musibah besar menimpa diri beliau, yaitu dengan wafatnya paman beliau Abu Thalib dalam usia 87 tahun dan tidak lama disusul oleh istrinya Siti Khadijjah. Tahun itu Rosulullah meyebutnya sebagai Aamul Huzni, yaitu tahun kesedihan (duka cita). Abu Thalib adalah orang yang sangat berpengaruh dalam masyarakat dan merupakan perisai yang setiap saat memberikan perlindungan kepada Nabi. Siti Khadijjah berasal dari kalangan bangsawan dan hartawan di kota Mekkah yang menghibur hati Nabi di waktu susah dan menghidupkan jiwa Nabi di waktu mengalami kesukaran. Harta bendanya banyak dikorbankan untuk perjuangan Rosulullah.Merasa keselamatan kaum muslimin terancam dari perlakuan orang Quraisy dengan wafatnya perisai dan pelindung Nabi, maka berpindahlah Nabi ke Thaif. Beliau menemui pemuka-pemuka Thaif dan berdakwah, mengajak memeluk Islam. Ajakan Nabi itu ditolak dengan kasar , Nabi diusir , disorak-soraki dan dikejar-kejar sambil dilempari batu hingga kedua kaki Nabi berdarah. Nabi terpaksa kembali ke Mekkah langsung menuju Baitullah. Di situ beliau thawaf dan sujud berdo’a semoga Allah mengampuni kaumnya dan memberi kekuatan kepadanya untuk melanjutkan risalah Tuhannya.
PERISTIWA ISRA' DAN MIRAJ' Di saat–saat menghadapi ujian yang maha berat dan tingkat perjuangan sudah mencapai puncaknya, gangguan dan hinaan, aniaya serta siksaan yang dialami Nabi dan pengikut-pengikutnya semakin berat, maka Allah mengutus malaikat Jibril untuk melakukan Isra’ dan Miraj’ dari Mekkah ke Baitul Maqdis dan mengangkatnya ke langit tujuh dunia dan Sidratul Muntaha. Peristiwa ini terjadi pada malam tanggal 27 Rajab, tahun ke 12 setelah kerasulan atau satu tahun sebelum hijrah ke Yatsrib (Medinah). Diriwayatkan oleh Jabir Ibnu Abbas bahwa pada saat itu Nabi sedang tidur di Hijr (dekat Ka’bah) datang malaikat Jibril dan membangunkannya sampai 3 kali lalu membawanya ke masjidil Aqsha dan mengangkatnya ke langit 7 bumi dan Sidratul Muntaha.
TARBIYYATUL RABBANIYAH Selain untuk menghibur dan membesarkan hati Rosulullah s.a.w setelah mendapat berbagai ujian dan cobaan yang berat, perjalanan isra' dan miraj' juga sebagai sarana pendidikan (Tarbiyyatul Rabbaniyah) kepada Nabi untuk memperteguh kesabaran dan keimanan. Hal tersebut dapat diketahui dari kejadian-kejadian yang dialami Rosulullah pada saat-saat Isra' dan Mi'raj yang ditemani Jibril. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudriy dan diketengahkan oleh Ibnu Ishaq dalam Sirah Ibnu Hisyam. Abu Sa'id Alkhudriy berkata :" Aku mendengar sendiri Rosulullah menerangkan : "……Seusai menunaikan ibadah di Baitul Maqdis, didatangkan sebuah tangga bagiku. Belum pernah aku melihat sesuatu yang lebih indah daripada tangga yang kulihat itu. Malaikat jibril menaikkan aku ke tangga dan aku memanjatnya hingga tiba di depan pintu langit yang disebut pintu Hafadzah. Di depan pintu itu terdapat malaikat Ismail (Pada langit pertama ini Nabi bertemu dengan malaikat-malaikat dengan tersenyum, tetapi ada malaikat yang sama sekali tidak tersenyum, wajahnya tampak memberengut. Ketika Rosulullah s.a.w. bertanya pada Jibril, lalu Jibril menjawab malaikat itu adalah bernama malaikat Malik, penjaga pintu neraka, lalu Nabi minta supaya malaikat itu memperlihatkan neraka. Setelah melihatnya Nabi minta supaya ditutup kembali). Setelah itu aku melihat seorang sedang menghadapi ruh-ruh manusia. Apabila kepadanya dihadapkan ruh yang baik ia gembira dan berkata : "Ruh yang baik keluar dari jasad yang baik". Apabila dihadapkan kepadanya ruh yang jahat, wajahnya memberangus sambil berucap : "Cis ! Ruh jahat keluar dari jasad yang jahat. " Kutanyakan kepada Jibril ;"Siapakah orang itu hai Jibril?". Ia menjawab : "Dia Adam ayah anda."Kemudian aku melihat orang yang mulutnya seperti moncong unta dengan memegang gumpalan api membara, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya, tak lama kemudian gumpalan api keluar kembali dari duburnya. Ketika kutunjukkan kepada Jibril siapa mereka itu, ia menjawab :"Mereka orang -orang yang makan harta anak-anak yatim secara dzalim ". Setelah itu aku melihat lagi sejumlah orang yang mempunyai perut demikian rupa, belum pernah aku melihat sedemikian rupa . Mereka dinjak-injak oleh para malaikat dan digiring ke neraka . Ketika kutanyakan pada Jibril , ia menjawab : "Mereka para pemakan riba."Kemudian aku melihat beberapa lelaki. Di depan mereka ada dua macam daging, yang satu masih segar dan baik, sedang yang lain telah basi dan busuk, akan tetapi mereka lebih suka yang busuk dan membiarkan yang segar. Ketika kutanyakan pada Jibril siapa mereka itu , ia menjawab : "Mereka itu ialah orang-orang yang menjauhi wanita yang dihalalkan dan lebih menyukai wanita yang diharamkan bagi mereka (yakni berbuat zina)." Setelah itu aku melihat sejumlah wanita yang bergelantungan pada payudaranya masing-masing. Mereka itu para istri yang beroleh anak dari hubungannya dengan lelaki lain dan menipu seolah-olah anak itu hasil hubungannya sendiri dengan suaminya yang syah. Kemudian aku ke langit kedua, kulihat Isa putra Maryam dan Yahya putra Zakariya. Di langit ketiga kulihat seorang pria rupawan. Ketika kutanyakan kepada Jibril , lalu ia menjawab : "Dia saudara anda , Yusuf putra Ya'cub. " Di langit keempat aku bertemu dengan Idris. Jibril menaikkan lagi aku ke langit ke lima. Di sana kulihat pria rambut dan janggutnya lebat berwarna keputih-putihan. Ketika kutanyakan kepada Jibril, dia menjawab : Dia Harun putera Imran , orang yang dicintai kaumnya, Aku dinaikkan lagi ke langit keenam. Di sana kulihat seorang pria dengan hidung mancung dan kulit hitam, dia adalah Musa putra Imran. Jibril kemudian membawaku naik ke langit tujuh. Di sana kulihat seorang pria sedang duduk di atas kursi menghadap pintu "Baitul Makmur" (pintu kebahagiaan). Melalui pintu itu tiap hari masuk tujuh puluh ribu malaikat, mereka tidak keluar lagi hingga hari kiyamat. Aku belum pernah melihat pria yang yang mirip dengan aku atau aku mirip dengannya. Ketika kutanyakan kepada Jibril siapa pria itu, ia menjawab : "Dia ayah anda Ibrahim". Setelah itu Jibril membawaku ke sorga. Di sana kulihat seorang wanita hitam manis . Aku kagum melihatnya , lalu ia ia kutanya ; " Engkau istri siapa?". Ia menjawab : "Zaid bin Haritsah". (Keesokan harinya beliau sampaikan kabar gembira kepada Zaid bin Haritsah mengenai calon istrinya yang rupawan di sorga). Kemudian aku tiba di hadirat Allah s.w.t. dan menerima perintah sholat fardlu 50 kali sehari semalam. Lalu turun dan bertemu Nabi Musa. Dan berkata : "Berapa kali sholat yang diwajibkan kepada anda ? " Beliau menjawab :"Lima puluh kali sehari semalam. "Lalu Musa berkata : " Sholat sebanyak itu amat berat, umat anda adalah lemah, kembalilah menghadap Allah Tuhanmu dan mohonkanlah keringanan bagimu dan bagi umatmu.”Lalu aku kembali menghadap hadirat Illahi untuk mohon keringanan bagiku dan bagi umatku. Allah mengabulkan dan mengurangi dengan sepuluh kali. Ketika aku kembali dan melewati Musa lagi, ia mengulang nasihatnya kepadaku. Nasihatnya kuturuti dan aku kembali menghadap Allah Tuhanku. Demikianlah berulang-ulang aku mohon keringanan atas nasihat nabi Musa dan akhirnya Allah menetapkan lima kali sholat fardlu tiap sehari semalam. Ketika aku melewati Musa lagi ia masih mensihatiku supaya mohon keringanan tetapi kujawab : " Aku telah berulang-ulang mohon keringanan kepada Allah Tuhanku hingga aku merasa malu sendiri ... Tidak aku tidak mau mohon keringanan lagi ."Rosulullah s.a.w kemudian mengakhiri kisah Miraj' nya dengan menegaskan kepada para sahabatnya ;"Barang siapa diantara kalian menuaikan sholat (lima kali sehari semalam) itu dengan sepenuh iman dan demi keridhoan Allah semata-mata, ia beroleh pahala sebanyak pahala lima puluh kali sholat fardlu".
PERISTIWA SETELAH ISRA' MI'RAJ
Setelah Nabi melakukan Isra' dan Mi'raj, keesokan harinya Nabi memberitahukan kepada para sahabat dan kaum musyrikin Quraisy, tetapi banyak diantara mereka yang menyatakan itu berita aneh yang tidak masuk akal. Kafilah yang berjalan cepat saja perlu waktu dua bulan pulang pergi Mekkah - Baitul Maqdis. Mana mungkin Muhammad pulang pergi hanya dalam satu malam ?
Banyak orang yang telah memeluk Islam kembali ke agama semula, karena beranggapan Muhammad mengada-ada dan mimpi.
Akan tetapi seorang sahabat Rosulullah yaitu Abu Bakar langsung bertanya ;" Ya Rosulullah benarkah anda mengatakan kepada orang banyak , bahwa anda datang dari Baitul Maqdis semalam ?"
Beliau menjawab ;"Ya benar !". " Ya Rosulullah, cobalah sebutkan kepadaku bagaimana Baitul Maqdis itu, aku sudah pernah pergi ke sana ", kata Abu Bakar, Seketika itu gambaran Baitul Maqdis tampak jelas di depan mata Rosulullah s.a.w, hingga beliau dapat menyebutkan bagian-bagian dari bangunan masjid tersebut….
"Anda sungguh tidak berdusta ya Rosulullah ! Aku bersaksi anda benar-benar utusan Allah !"Tiap Abu Bakar mendengar bagian-bagian Baitul Maqdis disebut ia mengucapkan berulang-ulang kepada Rosulullah : Anda benar...anda benar...". Sejak itulah Rosulullah menamainya Abu Bakar As Shiddiq yaitu Abu Bakar yang selalu membenarkan.
Banyak dari mereka masih kurang percaya , sehingga mereka masih meminta bukti dari Rosulullah, seperti diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Ummu Hani binti Abu Thalib. Beliau, Rosulullah s.a.w. berkata :
" Tadi malam aku melewati kafilah Bani Fulan di sebuah lembah.
Binatang yang kutunggangi mengejutkan mereka sehingga ada seekor di antara unta mereka melesat jauh ketika itu aku sedang menuju Syam.
Sampai di Dhajran dan aku melewati satu kafilah lagi dan aku minum ketika mereka sedang tidur nyenyak. Sekarang mereka berada di tikungan jalan Ta'nim.
Yang paling depan unta coklat tua dan berponok dua , hitam dan ada yang belang-belang.
Lalu mereka beramai-ramai ke jalan tikungan Ta'nim, dan ternyata kafilah tersebut baru tiba dengan unta yang disebutkan beliau.
Dan mereka bertanya tentang kejadian semalam, ternyata sama persis seperti apa yang diceritakan Rosulullah s.a.w.
HIKMAH ISRA' DAN MI'RAJ
Secara kronologis Isra' dan Mi'raj, baik sebelumnya, ketika terjadinya dan setelahnya, adalah merupakan salah satu perjalanan perjuangan dakwah Rosulullah s.a.w.yang berintikan kesabaran , keikhlasan dan keyakinan akan pertolongan Allah s.w.t.
Kesabaran Rosulullah adalah dalam menerima cobaan / ujian dan perintah Allah s.w.t, sedangkan nilai keikhlasannya bermuara pada penerimaan semua perintah Allah untuk dilaksanakan tanpa pamrih yang semata-mata berharap ridho Allah s.w.t.
Dan keyakinan Rosulullah pada Allah adalah Rosulullah tidak pernah merasa putus asa dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan agama Islam, karena Allah pada saatnya yang tepat akan mewujudkan sesuatu yang diperjuangkannya.
"Barang siapa menyerahkan seluruh dirnya kepada Allah dan berbuat kebaikan, baginya pahala Allah.
Tiada mereka ketakutan dan tiada mereka bersedih hati " (QS Al Baqoroh 112).
Berdasarkan nilai-nilai itulah maka beliau selalu berserah diri pada Allah s.w.t. untuk menjalankan misi dakwahnya walaupun sebenarnya tantangan yang dihadapi sangat berat hingga akhirnya pertolongan Allah datang, yaitu melalui sholat yang difardhukan dan disempurnakan dari yang sudah terdahulu.Firman Allah s.w.t:
" Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (QS Al Baqoroh 153).
Itulah salah satu bekal dari Allah kepada Rosulnya dan tentunya bagi kita juga sebagai umatnya, agar dalam menjalani kehidupan ini selain berikhtiar selalu memohon pertolongan kepada Allah melalui sholat dan sabar